Seminar Penguatan Literasi di Sekolah bersama Ahmad Tohari
Banyumas, senin, 14 Oktober 2024. MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Purbalingga mengadakan kegiatan seminar yang bertema penguatan literasi di sekolah. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber seorang sastrawan Indonesia, yaitu Ahmad Tohari. Tempat kegiatan juga sangat spesial karena berada di rumah beliau. Di sana juga dilaksanakan peluncuran dua buah buku karya guru Bahasa Indonesia SMP. Buku fiksi mini yang berjudul Tato Papillon merupakan wujud nyata hasil bimbingan teknis dari duta baca nasional Gol A gong dan Buku kumpulan puisi daun di pohon meraban dan badut-badut jalanan di ujung senja hasil bimbingan Nana Satrawan. Peluncuran kedua buku tersebut ditandai dengan pembacaan salah satu judul fiksi mini oleh Aji Santosa, S.Pd salah satu guru SMP Negeri 1 Bobotsari dan pembacaan salah satu judul puisi dari buku kumpulan puisi oleh Eri Setiawan, S.Pd, guru SMP Negeri 2 Pengadegan.
Acara
diawali dengan sambutan bina damping MGMP yang juga kepala SMP Negeri 2
Rembang, Teguh Basuki, S,Pd. Sebelum kegiatan seminar dimulai ada penyerahan kenang-kenangan
berupa vandel dari ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Purbalingga,
Joseph Goenaedhy, S.Pd.
Acara
seminar penguatan literasi di sekolah dipandu
oleh Septiningsih, S.Pd.,M.Pd sebagai moderator. Ahmad Tohari membuka seminar dengan cerita
tentang buku-buku karya Buya Hamka, Siti Nurbaya (Marah Rusli), Pramoedya Ananta
Toer itu yang dibaca. Ahmad Tohari juga bercerita sejak SMA dan tidak percaya
akan menjadi seorang pengarang. Pengalaman beliau yang sangat berkesan saat di
SMP Negeri 1 Purwokerto. Ibu Siti Rubiyah, guru Bahasa Indonesia memberi tugas Ahmad Tohari. Beliau diberi pertanyaan oleh gurunya
tentang Hb Jassin dan dijawab oleh Ahmad Tohari yang sudah senang membaca.
Jadi, untuk guru jangan sampai telat membaca. Ahmad Tohari setiap hari
membaca koran harian suara merdeka dan kompas.
Menurut
Beliau, literasi adalah cara mengembangkan diri yang paling menguntungkan.
Tanpa membaca perkembangan seseorang maka akan lebih lambat, sedangkan banyak
membaca maka akan cepet berkembang di masyarakat. Beliau juga berpesan bangkitkan
rasa suka membaca kepada para murid.
Di
rumah bapak Ahmad Tohari ada perpustakaan kejujuran untuk anak-anak muda
membaca karena menurutnya tanpa membaca akan sulit berkembang. Kebiasaan
yang selalu dilakukan setiap hari mengisi buku harian. Buku harian tersebut kini
sudah berumur puluhan tahun dengan tanggal 1 Juni 1966. Yang harus dilatih menurut
beliau adalah menulis buku harian menjadi sebuah karya, semua hal ditulis
termasuk yang baik atau perilaku yang buruk setiap harinya. Menurut beliau seorang
penulis yang karyanya diminati masyarakat adalah punya kecakapan bahasa,
kepekaan sosial, dan kecerdasan di atas rata2 sehingga karyanya bisa dinikmati
masyarakat sehingga buku ronggeng Dukuh Paruk sudah mencapai cetakan 21 dan
mendapat penghargaan buku yang bertahan lama.
Ahmad Tohari
berharap setiap sekolah menyediakan buku yang cukup bagi siswa untuk gemar
membaca terutama menjadi contoh di kelas untuk selalu membaca. Dan tantangan
terberat menurut beliau karena zaman ini sudah ada gawai yang canggih sehingga
anak sulit membaca buku sehingga hingga
kini dirinya tetap menggunakan gawai lama yang biasa saja agar menjaga konsistensi
dan tidak terganggu media daring agar tetap membaca dan berkarya. Pesan terakhir
beliau sebelum menutup seminar tentang pepatah yang mengatakan "aku
menulis maka aku ada", lestarikan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Dan Gatra
yang kedua adalah bahasa ibu. Dalam hal ini bahasa ibu dialek Banyumas. Kita
diharuskan mampu berbahasa ibu dengan menulis dan lisan.
Komentar
Posting Komentar